Tuhan,
Kenapa begini jadinya, salahkah aku bila ku tak bisa cerita lukaku padanya, tak menghargaikah aku namanya bila ku tak bisa cerita luka ku padanya, tak menganggapnya ada kah aku bila ku tak mampu tuk cerita lukaku padanya….
Apa itu yang namanya mengharagai, apa itu yang namanya menganggap seseorang ada n berarti, apa hanya dengan begitu baru bisa dikatakan menghargai, menganggap..apa itu Tuhan…??? Jika tidak begitu apa aku salah Tuhan….????
Sekarang saat aku luka, saat ku tak bisa bagi luka dan sakitku pada nya, apakah berhak dia menuduhkan segalanya karena aku tak menyukai jalan yang dia pilih, saat ku tak mampu bendung lukaku, dan punku tak mampu tuk cerita apakah berhak dia memovonisku, menganggap aku lah orang yang juga ikut tak pernah setuju dengan pilihannya. Kenapa dia selalu perlakukan aku seperti itu. Kenapa setiap lukaku, sakitku selalu dia kaitkan dengan masalahnya, kenapa?? Apa aku memang tak boleh tuk tampakkan kalau aku luka, apa tak boleh terlihat sedikitpun kalau aku juga manusia biasa sama sepertinya juga punya sakit….apa mesti selalu harus berpura2, tapi apa aku mampu, andai aku mampu, betapa ku ingin tak punya masalah, betapa ku ingin tak terluka, betapa ku ingin tak pernah merasakan sakit.,..apa mesti begitu ??
Selama ini, sebisa ku semampu ku, ku tlah coba pahami semua ingin dan mauny, ku coba berusaha beri terbaik buatnya, berusaha menjadi yang terbaik pun tuknya, berusaha jadikannya pun terbaik, bahkan terkadang sampai mengorbankan ingin ku sendiri, aku lakukan, tak mengapa karena hanya satu “Aku ingin beri yang terbaik, aku ingin dia bahagia jalani hidupnya” hanya itu, tapi selalu jatuhnya salah. Bahkan mungkin sampai semua yang kulakukan pun tak pernah punya arti baginya, tak mengapa, asal dia menikmati kebahagiaan itu.
Berusaha tuk buat dia nyaman bersama ku, bahagia,menjaga semampu ku punya daya, walau kadang keegoisan membuat aku, dia luka, tapi tak pernah terniat buat sakit dihati nya..
senang yang ku punya ku mau diapun merasakannya, dan luka yang ku rasa berusaha tuk simpan sendiri dan berharap tak ingin dia sakit karenanya…luka yang dia punya berusaha tuk obati semampu ku punya daya, bahagia yang dia punya, tak ingin merusaknya, nikmatilah itu sebagai hadiah dari perjalanan hidup yang masih panjang…