Ku ingin kau benar-benar pulang

15 09 2008

kau pulang tapi tak benar-benar pulang, aku melihatmu, tapi bukan dirimu, aku menyentuhmu, tapi hanya tubuhmu, aku cari jiwamu, tapi yang kutemui keterasingan, kau menatapku, tapi bukan tatapan yang dulu, kau tersenyum padaku, tapi itu bukan senyum yang pernah kukenal, aku tak lagi mengenalmu, kau dekat tapi begitu jauh, dimana kau tinggalkan jiwa yang kucinta, tatapan yang buat ku teduh, senyum yang slalu beri aku kekuatan…dimana kau campakkan rasa yang dulu kita punya…berdua

se7en
tulis : diam
‘06





P U N A H

15 09 2008

kita pernah merangkai kata
tapi, terhenti sebelum usai jadi sebuah kalimat
kita pernah menuai cerita
tapi, terhenti sebelum titik
kita pernah berjanji tuk saling percaya
tapi, saat dusta hadir kita membiarkannya singgah
kita coba mencari makna dari semua yang ada
tapi, ego menggerogoti jiwa

se7en
tulis : diam
mei, ‘05





MAAF, ITU SAJA!

15 09 2008

pagi ini kudatang lagi
seperti biasa, seikat mawar dan sebuah puisi
yang telah kupersiapkan tadi malam
tapi maaf, mawar itu tak lagi berwarna
puisi itu tak lagi bermakna

kita pernah satu tujuan, memang
gapai mimpi raih asa yang kita punya
kita pernah satu rasa, memang
jalin kasih rajut bahagia yang kita damba

tapi, maaf pagi ini kudatang
bukan untuk melepas rindu
berbagi cerita seperti biasa
langkah telah sampai pada persimpangan
aku datang untuk lepas dan bebaskan semua
mengaburkan rindu yang pernah ada
maaf, jangan pernah tanya “mengapa!’

se7en
tulis : diam
mei ‘05





duapuluhenam desember duaribu empat

15 09 2008

telah ku dengar lagi jerit kematian
telah ku dengar lagi jerit ketakutan
telah ku dengar jerit kesakitan
telah ku dengar lagi jerit duka di ujung banda
semua terpampang jelas di layar televisi

jeritan memilukan mengoyak dada penuh luka
di ujung banda kau berjuang mempertahankan hidup
di ujung banda kau pertaruhkan nyawa
melawan amukan jagad raya, dan
di sini ku bersujud menghadp-Nya
memohon ampun dan pertolongan-Nya

se7en
tulis : diam
des, ‘04





……090904……

15 09 2008

hari ini kudengar lagi tangisan pilu
sayat hati dan iris kalbu
hari ini kudengar lagi jerit kematian
menusuk tulang menembus dada
sesak, sesak sekali
Tuhan
derita atas dosa apalagi ini,
Tuhan
hukuman atas dosa siapa lagi ini,
Tuhan
siksaan atas nama apalagi ini,
Tuhan,
perih, perih sekali

se7en
tulis : diam
Slk, Sept ‘04